Petani Garam Di Desa Pecangaan Tetap Berproduksi Ditengah Pandemi Covid-19

Pecangaan, Memasuki musim kemarau nasib petani garam dikabupaten pati kian terpukul. Selain harga garam yang anjlok hingga menyentuh Rp. 200-300per/kg produksi garam petani juga belum sepenuhnya terserap. Selama pandemi praktis tidak ada satu jenis usaha atau produk yang tidak terpengaruh oleh pandemi Covid-19 yang sampai kini masih terus menyebar ke berbagai pelosok negeri. Dampak atau ancaman covid terhadap aktivitas produksi dan keberlangsungan dunia usaha, diprediksi dalam waktu dekat akan menjadi persoalan pelik yang akan dihadapi.

Jauh sebelum Covid-19 muncul dan menjadi pandemi, bangsa Indonesia sudah kelebihan pasokan untuk tidak mengatakan kebanjiran garam. Garam tidak hanya mudah didapatkan, tapi juga gampang dimiliki karena harganya sangat murah. Harga garam rakyat saat ini anjlok ke sekitar Rp200 – 300 per kilogram, lebih kecil dari biaya produksi. Harga murah meriah yang setara dengan sepersepuluh ongkos yang dibayarkan ke tukang parkir di pinggir jalan itu, membuat makanan penyedap rasa ini nyaris tidak bernilai sebagai sebuah komoditi pangan strategis.

Akibatnya, garam rakyat hasil keringat ratusan petani itu menumpuk di gudang-gudang, di berbagai sentra produksi garam. Mudah ditebak nasib ratusan petani garam yang tersebar dikabupaten Pati merasakan dampaknya.

Seorang petani mengarungkan garam hasil panennya di sekitaran Desa Pecangaan, Kamis (30/7/2020). Sebagian besar petani garam di tempat tersebut tetap berproduksi di tengah pandemi COVID-19 untuk memenuhi kebutuhan garam dan bekerja untuk kelangsungan hidup keluarga mereka.

Harga garam lokal saat ini sudah mencapai titik terendah sejak Tahun 2017 lalu. Dari semula harga garam lokal perkilo Rp 4.000 kini di tahun 2020 hanya dihargai perkilonya antara Rp 200 hingga Rp 400. Sedangkan biaya produksi garam masih terbilang tinggi, dan setiap kali panen garam harus terbebani lagi dengan biaya angkut dari lokasi tambak ke gudang tempat penyimpanan garam.

Produksi garam di Kabupaten Pati masih menggunakan cara sederhana, sehingga untuk meningkatkan produktivitasnya membutuhkan peralatan modern, termasuk dalam proses pemadatan dan pengemasannya. Tempat usaha yang melakukan pengemasan garam di Kabupaten Pati, kini berburu garam hingga ke Sulawesi, Madura serta garam impor dari India dan Australia.

Petani garam berharap akan diadakan komunikasi, permasalahan harga garam yang turun drastis ini bisa dicarikan solusinya, termasuk berupaya mencegah garam impor masuk wilayah Kabupaten Pati demi stabilisasi harga garam lokal. Sehingga para petani garam  nantinya harga produksi yang diperoleh bisa seimbang  dengan ongkos angkut yang dikeluarkan.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*